Dosen:
Ns.Marlyn
Brigita,S.Kep.M.Kep
Tugas: Keperawatan Medical Bedah II
ANAMNESA
dan OBSERVASI SIRKULASI
DISUSUN OLEH:
NAMA
: WIKA IRENE RANGGINA
KELAS:
II B
NIM:
P-152284
YAYASAN PENDIDIKAN KARYA ANAK BANGSA
AKADEMIK KEPERAWATAN SANDI KARSA
MAKASSAR
TAHUN 2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, Rahmad, dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Keperawatan
pemeriksaan kesadaran.
Makalah
ini merupakan tugas mata kuliah Keperawatan Medical Bedah II di SANDI KARSA
MAKASSAR Program D3 Keperawatan Kelas 2B.
Dalam
penyusunan makalah ini penulis mendapat banyak bimbingan, arahan, bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan yang baik ini penulis
mengucapkan rasa terima kasih kepada yang terhormat :
- Ibu
Ns.Marlyn Brigita,S.Kep.M.Kep Dosen pembimbing materi Keperawatan Medical
Bedah II yang telah memberikan masukan, kritik, dan saran serta membantu
penulis untuk menyelesaikan makalah ini.
- Teman-teman
sealmamater, Teman Kelas 2B, serta semua pihak yang membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.
Penulis
berusaha untuk dapat menyelesaikan Makalah ini dengan sebaik-baiknya, namun
demikian, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu,
penulis mengharap adanya kritik dan saran dari semua pihak untuk dapat
menyempurnakan makalah ini.
Makassar,
05 January 2017
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR.....................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................ii
BAB
I...........................................................................................................1
A.
Latar
BELAKANG..........................................................................................1
B. Rumusan
Masalah.........................................................................................3
C. Tujuan
Penulisan...........................................................................................3
D. Manfaat
Penulisan.........................................................................................3
BAB
II..........................................................................................................4
A. Definisi
Anamnesa dan Observasi Sirkuasi...................................................4
B. CARA
MENGANAMESIS PASIEN................................................................4
C. Fase
– Fase Anamnesa....................................................................................6
D. Komponen
Anamnesa..................................................................................6
E. Pemeriksaan Fisik Sistem vaskuler...................................................................9
BAB
III.......................................................................................................10
A.
Kesimpulan......................................................................................................10
B.
Pesan...............................................................................................................10
DAFTAR
PUSTAKA.............................................................................................11
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sebagai tenaga kesehatan,
khususnya seorang perawat, sangat diperlukan adanya kesiapan untuk berani
melakukan tatap muka dan aktif dalam membangun keakraban dengan pasiennya.Pada
umumnya kontak pertama antara seorang perawat dan pasien dimulai dari
anamnesis. Dari sini hubungan terbangun sehingga akan memudahkan kerjasama
dalam memulai tahap-tahap pemeriksaan berikutnya.
Dalam
menegakkan suatu diagnosis anamnesis mempunyai peranan yang sangat penting
bahkan terkadang merupakan satu-satunya petunjuk untuk menegakkan iasris.Secara
umum sekitar 60-70% kemungkinan diagnosis yang benar sudah dapat ditegakkan
hanya dengan anamnesis yang benar.Pemeriksaan anamnesis adalah pintu pembuka
atau jembatan untuk membangun hubungan perawat dan pasiennya sehingga
dapat mengembangkan keterbukaan dan kerjasama dari pasien untuk tahap-tahap
pemeriksaan selanjutnya.
Anamnesis
yang baik akan mengalir dan spontan layaknya sebuah obrolan. Suasana anamnesis
yang nyaman seperti itu hanya bisa dicapai jika perawat maupun
pasien bersikap ramah dan santun serta memiliki kemampuan
berkomunikasi yang baik.
Oleh
karena itu, kami memilih pembahasan mengenai anamnesis ini dikarenakan
kebanyakan para tenaga kesehatan kurang lengkap dalam melakukan anamnesis
kepada pasiennya bahkan ada juga yang tidak melakukannya.
Kardiovaskuler terdiri dari dua suku kata yaitu
cardiac dan vaskuler. Cardiac yang berarti jantung dan vaskuler yang berarti
pembuluh darah. Dalam hal ini mencakup sistem sirkulasi darah yang terdiri dari
jantung komponen darah dan
pembuluh darah.
Pusat peredaran darah atau sirkulasi darah ini berawal dijantung, yaitu
sebuah pompa berotot yang berdenyut secara ritmis dan berulang 60-100x/menit.
Setiap denyut menyebabkan darah mengalir dari jantung, ke seluruh tubuh dalam
suatu jaringan tertutup yang terdiri atas arteri, arteriol, dan kapiler
kemudian kembali ke jantung melalui venula dan vena.
Dalam memahami sistem sirkulasi , kita perlu memahami anatomi
fisiologi yang ada pada jantung tersebut sehingga kita mampu memahami berbagai
problematika berkaitan dengan sistem kardivaskuler tanpa ada kesalahan yang
membuat kita melakukan neglicent( kelalaian). Oleh karena itu,
sangat penting sekali memahami anantomi fisiologi kardiovaskuler yang
berfungsi langsung dalam mengedarkan obat-obatan serta oksigenasi dalam tubuh
dalam proses kehidupan.
Dalam melakukan pengkajian dengan baik, maka diperlukan pemahaman, latihan
dan ketrampilan mengenal tanda dan gejala yang ditampilkan oleh pasien. Proses
ini dilaksanakan melalui interaksi perawatan dari klien, observasi, dan
pengukuran.Pemeriksaan dalam keperawatan menggunakan pendekatan yang sama
dengan pengkajian fisik, yaitu dengan pendekatan inspeksi, palpasi, auskultasi
dan perkusi . Pengkajian fisik dilakukan untuk menegakkan diagnosis yang berupa
kepastian tentang penyakit apa yang diderita klien . pengkajian fisik
keperawatan pada prinsipnya dikembangkan berdasarkan model keperawatan yang
lebih difokuskan pada respon yang ditimbulkan akibat masalah kesehatan yang
dialami. Pengkajian fisik keperawatan harus mencerminkan diagnosa fisik yang
secara umum perawat dapat membuat perencanaan tindakan untuk mengatasinya.
Untuk mendapatkan data yang akurat sebelum pemeriksaan fisik dilakukan
pengkajian riwayat kesehatan, riwayat psikososial, sosek, dll. Hal ini
memungkinkan pengkajian yang fokus dan tidak menimbulkan bias dalam mengambil
kesimpulan terhadap masalah yang ditemukan.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
cara yang benar dalam menganamnesis pasien?
2. Apa saja pemeriksaan diagnostik pada sistem vaskuler ?
C. Tujuan
Penulisan
1. Mengetahui
cara yang benar dalam menganamnesis pasien.
2. Agar mahasiswa tenaga kesehatan atau tenaga medis dapat memahami
pemeriksaan yang berkaitan dengan vaskuler
D. Manfaat
Penulisan
1. Memberikan
gambaran umum kepada mahasiswa keperawatan mengenai
cara menganamnesis pasien yang baik dan benar sehingga pasien merasa
nyaman menceritakan semua keluhan penyakitnya.
2.
agar meminimalisir kesalahan dalam
tindakan praktik keperawatan yang di sebabkan oleh ketidakpahaman dalam anatomi
fisiologi dalam sistem vaskuler sehingga berpengaruh besar terhadap kehidupan
klien.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Anamnesa dan Observasi Sirkuasi
Anamnesa
merupakan pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter maupun perawat
dengan cara melakukan serangkaian wawancara dengan pasien atau keluarga pasien
atau dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien.
Observasi
adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter maupun perawat dengan cara melakukan
serangkaian pengamatan dengan pasien.
Sedangkan
observassi sirkulasi adalah pengamatan yang dilakukan dokter maupun perawat
untuk membandingkan data pemeriksaan yang
pernah diambil dengan data yang baru diambil.
B. CARA
MENGANAMESIS PASIEN
Menurut
Patricia A Potter tahun 2005, jenis teknik anamnesa meliputi :
1. Teknik
Mencari Masalah.
Anamnesa
mencari masalah mengidentifikasi masalah potensial klien, dan pengumpulan data
selanjutnya difokuskan pada masalah tersebut. Sebagai contoh, perawat
menanyakan pada klien tentang perubahan yang dialami dalam pecernaan, seperti
kurang nafsu makan, mual, muntah atau diare. Jika klien mengatakan bahwa sebagian
dari gejala ini dialaminya, perawat melanjutkan dengan pertanyaan pemecahan
masalah yang difokuskan pada perubahan spesifik pada pencernaan.
2. Teknik
Pemecahan Masalah.
Teknik
anamnesa pemecahan masalah difokuskan pada pengumpulan data yang lebih mendalam
pada masalah spesifik yang diidentifikasi oleh klien atau perawat (lvey,1988).
Sebagai contoh, jika klien melaporkan bahwa muntah telah dalam 2 hari, perawat
menanyakan apa pencetus muntah pertama kalinya, apakah klien mengalami gejala
lain, apakah terjadi setiap kali klien makan atau minum dan bagaimana
karasteritik muntah. Informasi tentang pasien, faktor pemberat, gejala yang
berkaitan, tindakan pereda yang telah klien coba, dan keefektifan tindakan ini
pada akhirnya memadu pemilihan perawat tentang interverensi keperawatan.
3. Teknik
Pertanyaan Langsung.
Anamnesa
pertanyaan langsung adalah format strukstur yang membutuhkan jawaban satu atau
dua kata dan sering kali digunakan untuk mengklarifikasi informasi sebelumnya
atau memberikan informasi tambahan (lvey,1998). Sebagai contoh "apakah
anda mengalami nyeri ketika muntah?" adalah suatu pertanyaan
langsung.Dengan teknik ini pertanyaan tidak mendorong klien untuk secara suka
rela memberikan informasi lebih banyak dari yang ditanyakan langsung.Tipe
pertanyaan seperti ini sangat berguna dalam mengumpulkan data biografi dan
informasi spesifik mengenai masalah kesehatan seperti, gejala, faktor pencetus
dan tindakan pereda.
4. Teknik
Pertanyaan Terbuka.
Anamnesa
pertanyaan terbuka ditunjukan untuk mendapatkan respons lebih dari satu kata
atau dua kata. Teknik ini mengarah pada diskusi di mana klien secara aktif
menguraikan status kesehatan mereka. Metode ini menguatkan hubungan perawat
klien karena teknik ini menunjukkan bahwa perawat ingin meluangkan waktu untuk
mendengarkan pikiran klien. Contoh-contoh pertanyaan terbuka adalah sebagai
berikut :
a. "Perawat
kesehatan apa yang anda butuhkan?"
b. "Bagaimana
perasaan Anda?"
c. "Ceritakan
pada saya apa makna kedatangan ke rumah sakit bagi Anda?"
C. Fase
– Fase Anamnesa
Menurut
Patricia A Potter tahun 2005, fase-fase anamnesa adalah sebagai berikut :
a. Fase
Orientasi
Perawat
membuka wawancara dengan menjelaskan tujuan dari wawancara. Perawat juga
mendiskusikan tipe pertanyaan yang akan ditanyakan dan para klien dalam proses
wawancara. Kemudian perawat meluangkan waktu beberapa menit untuk saling
mengenal dengan klien.
b. Fase
Kerja
Dengan
berkembangnya wawancara, perawat mengajukan pertanyaan untuk membentuk data
dasar yang digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan rencana asuhan
keperawatan.
c. Fase
Terminasi
Terminasi
membutuhkan keterampilan dari pihak wawancara. Idealnya klien harus diberi
isyarat bahwa wawancara akan segera berakhir.
D. Komponen
Anamnesa
Menurut
Patricia A Potter tahun 2005, riwayat kesehatan keperawatan adalah data yang
dikumpulkan tentang tingkat kesejahteraan klien (saat ini dan masa
lalu).Riwayat keluarga, perubahan dalam pola kehidupan, riwayat sosial budaya,
keseatan spiritual dan reaksi mental serta emosi terhadap penyakit.Riwayat
keperawatan dikumpulkan selama anamnesa, dan merupakan langkah pertama dalam
melakukan pengkajian. Macam-macam riwayat kesehatan keperawatan :
a. Riwayat
kesehatan masa lalu
Informasi
yang dikumpulkan tentang riwayat masa lalu memberikan data tentang
pengalaman kesehatan klien. Perawat mengkaji apakah klien pernah dirawat
di rumah sakit atau pernah menjalani operasi. Perawat juga mengidentifikasi
kebiasaan dan pola gaya hidup pasien.
b. Riwayat
Keluarga
Tujuan
dari riwayat keluarga adalah untuk mendapatkan data tentang hubungan
kekeluargaan langsug dan hubungan darah. Sasaranya untuk menentukan apakah
klien berisiko terhadap penyakit yang bersifat genetik atau familial dan untuk
mengidentifikasi area tentang promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
c. Riwayat
Lingkungan
Riwayat
lingkungan memberikan data tentang lingkungan rumah klien dan segala sistem
pendukung yang anggota keluarga dan klien dapat digunakan. Riwayat
lingkungan misalnya mengidentifikasi pemajanan polutan yang dapat mempengaruhi
kesehatan, tingkat kriminalitas yang tinggi sehingga menghambat klien untuk
berjalan-jalan sekitar lingkungan rumah dan sumber yang dapat membantu klien
dalam kembai ke komunitas.
d. Riwayat
Psikososial
Riwayat
psikososial yang lengkap menunjukkan siapa sistem pendukung klien, termasuk
pasangan, anak-anak anggota keluarga lain, atau teman dekat.Riwayat psikososial
termasuk informasi tentang cara-cara yang biasanya klien dan anggota keluarga
gunakan untuk mengatasi stres.perilaku yag sama seperti berjalan-jalan,
membaca, atau berbicara dengan teman, dapat digunakan sebagai intervensi
keperawatan jika klien mengalami stres ketika menerima perawatan
kesehatan.perawat juga belajar apakah klien telah mengalami suatu kehilangan
baru-baru ini yang dapat menciptakan suatu rasa berduka.
Menurut
Helen Varney tahun 2007, komponen anamnesa adalah sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi
informasi
1. Nama
2. Usia
3. Ras/etik
4. Alamat/telepon
5. Agama
6. Status
pernikahan
7. Pekerjaan
8. Jenis
kelamin
b. Keluhan
Utama
(KU)
c. Riwayat
Penyakit Saat ini
d. Riwayat
Medis Terdahulu dan Perawatan Primer
1. Penyakit
pada masa kanak-kanak/imunisasi seperti campak (tipe), gondongan, dan cacar air
2. Uji
skrining laboratorium yang dilakukan baru-baru ini untuk penyakit infeksi
(hepatitis, campak, tuberkulosis, HIV) : tanggal, hasil
3. Penyakit
utama (pneumonia, hepatitis, demam reumatik, difteri, polio)
4. Rawat
inap ; tanggal, alasan
5. Pembedahan
; tanggal, alasan
6. Kecelakaan
; fraktur, cedera, tidak sadar
7. Tranfusi
darah ; tanggal, alasan, reaksi
8. Alergi
(makanan, demam Hay, lingkungan, debu, binatang ; asma)
9. Alergi
obat
10. Penyalahgunaan
alkohol/alkoholisme; perawatan
11. Penyalahgunaan/
ketergantungan obat; zat, perawatan
12. Kebiasaan
13. Pola
tidur
14. Diet/malnutrisi
15.
Olahraga/ aktivitas bersenang-senang
16.
Bahaya ditempat kerja : posisi (berdiri,duduk) tegangan (mata,otot),
ventlisasi, terpajan zat kimia beracun
17.
Bahayan lingkungan : udara, air, pembuangan limbah, jumlah jendela kurang,
tempat perapian yang tebuka, cat
18.
Penganiayaan fisik/seksual pada masa kanak-kanak
19. Kekreasan
rumah tangga/ pemukulan/ pemerkosaan/ isolasi pada masa yang lalu, saat ini
keamanan
20. Uji
skrining genetik, jika didapat lakukan (mis. Sel sabit,tay sachs, fibrosis
kritis); hasil
21. Penyakit
spesifik
22. Pengobatan
E. Pemeriksaan Fisik Sistem vaskuler
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya
kelainan-kelainan dari suatu sistem atau suatu organ bagian tubuh dengan cara
melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk (perkusi) dan mendengarkan
(auskultasi). Urutan pemeriksaan berjalan secara logis dari kepala ke kaki, dan
bila telah terlatih dapat dilakukan hanya dalam waktu sekitar 10 menit :
(1) keadaan umum,
(2) tekanan darah,
(3) nadi,
(4) tangan,
(5) kepala dan leher,
(6) jantung,
(7) paru,
(8) abdomen dan
(9) kaki serta tungkai.
1. Pemeriksaan Tekanan Darah
Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan
ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah jantung, ketegangan arteri,
dan volume, laju serta kekentalan (viskositas) darah. Tekanan darah biasanya
digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolic, dengan
nilai dewasa normalnya berkisar dari 100/60 sampai 140/90. Teknik penggukuran
tekanan darah meliputi :
a.
Manset spignomanometer diikatkan pada
lengan atas, stetoskop ditempatkan pada arteri brakialis pada permukaan ventral
siku agak bawah manset spigmomanometer.
b.
Tekanan dalam spigmomanometer dinaikkan
dengan memompa udara ke dalam manset sampai denyut radial dan brachial
menghilang. Manset dikembangkan lagi sebesar 20 sampai 30 mmHg diatas titik
hilangnya denyutan radial kemudian tekanan didalam spigmomanometer di turunkan
secara perlahan.
c.
Pada saat denyut nadi mulai terdengar
kembali, baca tekanan yang tercantum pada skala spigmomanometer, tekanan ini
adalah tekanan sistolik.
d.
Suara denyutan nadi selanjutnya agak
keras dan tetap terdengar sekeras itu sampai suatu saat denyutannya melemah
atau menghilang sama sekali. Suara denyutan terakhir adalah tekanan diastolic.
2. Pemeriksaan Nadi
1.Palpasi
Penilaian palpasi meliputi frekuensi, irama, kualitas, konfigurasi gelombang, dan keadaan pembuluh darah. Frekuensi jantung normal
Penilaian palpasi meliputi frekuensi, irama, kualitas, konfigurasi gelombang, dan keadaan pembuluh darah. Frekuensi jantung normal
Usia
|
Frekuensi jantung (denyut/menit)
|
Bayi
|
120-160/mnt
|
todler
|
90-140/mnt
|
Prasekolah
|
80-110/mnt
|
Usia sekolah
|
75-100/mnt
|
Remaja
|
60-90/mnt
|
Dewasa
|
60-100/mnt
|
2.Irama
Secara normal irama merupakan interval reguler yang terjadi antara setiap
denyut nadi atau jantung. Bila irama nadi tidak teratur, maka frekuensi jantung
harus dihitung dengan melakukan auskultasi denyut apikal selama satu menit
penuh sambil meraba denyut nadi. Setiap perbadaan antara kontraksi yang
terdengar dan nadi yang teraba harus dicatat. Gangguan irama (disritmia) sering
mengakibatkan defisit nadi, suatu perbedaan antara frekuensi apeks
(frekuensi jantung yang terdengar di apeks jantung) dan frekuensi nadi. Defisit
nadi biasanya terjadi pada fibrilasi atrium, flutter atrium,
kontraksi ventrikel premature dan berbagai derajat blok jantung.
3.Kekuatan nadi
Kekuatan atau amplitudo dari nadi menunjukkan volume darah yang diejeksikan
ke dinding arteri pada setiap kontraksi jantung dan kondisi sistem pembuluh
darah arterial yang mengarah pada nadi. Secara normal, kekuatan nadi tetap sama
pada setiap denyut jantung.
0 tidak
ada, tidak dapat dipalpasi
1+ nadi hilang,
sangat sulit dipalpasi, mudah hilang
2+ mudah
dipalpasi, nadi normal
3+ nadi penuh,
meningkat
4+ kuat, nadi
memantul, tidak dapat hilang
3. pemeriksaan
pernafasan
Frekuensi
napas normal tergantung umur :
1. Usia baru lahir sekitar 35 – 50 x/menit
2. Usia < 2 tahun 25 – 35 x/menit
3. Usia 2-12 tahun 18 – 26 x/menit
4. Dewasa 16 – 20 x/menit.
5. Takhipnea :Bila pada dewasa pernapasan lebih dari 24 x/menit
6. Bradipnea : Bila kurang dari 10 x/menit disebut
7. Apnea : Bila tidak bernapas .
1. Usia baru lahir sekitar 35 – 50 x/menit
2. Usia < 2 tahun 25 – 35 x/menit
3. Usia 2-12 tahun 18 – 26 x/menit
4. Dewasa 16 – 20 x/menit.
5. Takhipnea :Bila pada dewasa pernapasan lebih dari 24 x/menit
6. Bradipnea : Bila kurang dari 10 x/menit disebut
7. Apnea : Bila tidak bernapas .
4.
Mengukur suhu tubuh
Mengukur suhu tubuh dapat dilakukan dengan
berbagai cara, yaitu yang paling umum adalah dengan melakukan pengukuran di
ketiak, mulut dan dubur. Termometer yang digunakan,sebaiknya termometer digital
(elektronik) untuk memberikan hasil yang tepat dan akurat.
1. Mengukur Suhu Tubuh Di Bawah Ketiak
Pengukuran suhu tubuh yang paling umum dan
mudah adalah di ketiak. Langkah pengukuran sebagai berikut:
- Ujung termometer dibersihkan.
- Letakkan ujung termometer di
ketiak, dan jepit dengan erat.
- Tahan termometer hingga
berbunyi.
- Termometer dikeluarkan dan baca
hasilnya.
- Bersihkan termometer.
2. Mengukur Suhu Tubuh Lewat Mulut
Mengukur suhu tubuh yang paling mudah dan
memberikan hasil yang cukup akurat adalah melalui mulut. Untuk mengukur suhu
tubuh ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
- Ujung termometer dibersihkan.
- Masukkan ujung termometer ke
bawah lidah.
- Tahan termometer dalam mulut
minimal 1 menit, atau sampai termometer berbunyi.
- Keluarkan termometer dan baca
hasilnya.
- Bersihkan termometer kembali.
3. Mengukur Suhu Tubuh Lewat Dubur
Tempat lain untuk mengukur suhu tubuh
adalah di dubur. Namun pengukuran di tempat ini cukup merepotkan, terutama pada
bayi atau anak-anak. Langkah pengukuran pada bayi/anak-anak dilakukan sebagai
berikut:
- Oleskan pelumas (Aquagel) pada ujung termometer.
- Tengkurapkan atau telentangkan bayi di pangkuan.
- Masukkan 1,5-2,5 cm ujung termometer ke dalam
dubur dengan hati-hati.
- Tahan posisi tersebut hingga termometer berbunyi.
Posisi bayi harus ditahan idak bergerak, sebab jika bergerak, dapat
menyebabkan termometer masuk lebih dalam dan menyebabkan luka.
- Keluarkan termometer dan baca hasilnya.
Pengukuran suhu tubuh di dubur memberikan hasil yang paling akurat. Sebagai
catatan, jangan gunakan termometer di dubur untuk melakukan pengukuran di
tempat lain, terutama di mulut. Tahukan alasannya?
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Anamnesa
merupakan pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter maupun perawat
dengan cara melakukan serangkaian wawancara dengan pasien atau keluarga pasien
atau dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien.
Observasi
adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter maupun perawat dengan cara melakukan
serangkaian pengamatan dengan pasien.
Sedangkan
observassi sirkulasi adalah pengamatan yang dilakukan dokter maupun perawat
untuk membandingkan data pemeriksaan
yang pernah diambil dengan data yang baru diambil.
B.
Saran
o bagi perawat dalam melakukan pemeriksaan harus
menggunakan ketelitian
DAFTAR
PUSTAKA
Andrajati, Retnosari dkk. 2008. Penuntun Praktikum
Anatomi Fisiologi Manusia. Depok: Departemen Farmasi FMIPA UI.
Enykus, 2003, keterampilan dasar dan prosedur
perawatan dasar, ed 1. Semarang, Kilat press
Husen, Saikhu Akhmad dkk. 2011. Petunjuk
Praktikum Fisiologi. Surabaya: Departemen Biologi FST UA.
Pery, Anne Griffin, Potter, patricia A., Yasmin,
Asih (editor). (1999). Buku Saku Ketrampilan Dan Prosedur
Dasar. EGC: Jakarta
Pery, Anne Griffin, Potter, patricia
A.,(1999). Fundamental Keperawatan Konsep proses dan praktek.EGC: Jakarta
