Selasa, 10 Januari 2017

ANAMNESA dan OBSERVASI SIRKULASI

Dosen: Ns.Marlyn Brigita,S.Kep.M.Kep
Tugas: Keperawatan Medical Bedah II
ANAMNESA dan OBSERVASI SIRKULASI

DISUSUN OLEH:
NAMA : WIKA IRENE RANGGINA
KELAS: II B
NIM: P-152284


YAYASAN PENDIDIKAN KARYA ANAK BANGSA
AKADEMIK KEPERAWATAN SANDI KARSA MAKASSAR
TAHUN 2016/2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, Rahmad, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Keperawatan pemeriksaan kesadaran.
Makalah ini merupakan tugas mata kuliah Keperawatan Medical Bedah II di SANDI KARSA MAKASSAR Program  D3 Keperawatan Kelas 2B.
Dalam penyusunan makalah ini penulis mendapat banyak bimbingan, arahan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan yang baik ini penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada yang terhormat :
  1. Ibu Ns.Marlyn Brigita,S.Kep.M.Kep Dosen pembimbing materi Keperawatan Medical Bedah II yang telah memberikan masukan, kritik, dan saran serta membantu penulis untuk menyelesaikan makalah ini.
  2. Teman-teman sealmamater, Teman Kelas 2B, serta semua pihak yang  membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis berusaha untuk dapat menyelesaikan Makalah ini dengan sebaik-baiknya, namun demikian, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharap adanya kritik dan saran dari semua pihak untuk dapat menyempurnakan makalah ini.
Makassar, 05 January 2017

Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................ii
BAB I...........................................................................................................1
A.   Latar BELAKANG..........................................................................................1
B.   Rumusan Masalah.........................................................................................3
C.   Tujuan Penulisan...........................................................................................3
D.   Manfaat Penulisan.........................................................................................3
BAB II..........................................................................................................4
A.   Definisi Anamnesa dan Observasi Sirkuasi...................................................4
B.   CARA MENGANAMESIS PASIEN................................................................4
C.   Fase – Fase Anamnesa....................................................................................6
D.   Komponen Anamnesa..................................................................................6
E.   Pemeriksaan Fisik Sistem vaskuler...................................................................9
BAB III.......................................................................................................10
A.   Kesimpulan......................................................................................................10
B.   Pesan...............................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................11

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagai tenaga kesehatan, khususnya seorang perawat, sangat diperlukan adanya kesiapan untuk berani melakukan tatap muka dan aktif dalam membangun keakraban dengan pasiennya.Pada umumnya kontak pertama antara seorang perawat dan pasien dimulai dari anamnesis. Dari sini hubungan terbangun sehingga akan memudahkan kerjasama dalam memulai tahap-tahap pemeriksaan berikutnya.
Dalam menegakkan suatu diagnosis anamnesis mempunyai peranan yang sangat penting bahkan terkadang merupakan satu-satunya petunjuk untuk menegakkan iasris.Secara umum sekitar 60-70% kemungkinan diagnosis yang benar sudah dapat ditegakkan hanya dengan anamnesis yang benar.Pemeriksaan anamnesis adalah pintu pembuka atau jembatan untuk membangun hubungan perawat dan pasiennya sehingga dapat mengembangkan keterbukaan dan kerjasama dari pasien untuk tahap-tahap pemeriksaan selanjutnya.
Anamnesis yang baik akan mengalir dan spontan layaknya sebuah obrolan. Suasana anamnesis yang nyaman seperti itu hanya bisa dicapai jika perawat maupun pasien bersikap ramah dan santun  serta memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik.
Oleh karena itu, kami memilih pembahasan mengenai anamnesis ini dikarenakan kebanyakan para tenaga kesehatan kurang lengkap dalam melakukan anamnesis kepada pasiennya bahkan ada juga yang tidak melakukannya.
Kardiovaskuler terdiri dari dua suku kata yaitu cardiac dan vaskuler. Cardiac yang berarti jantung dan vaskuler yang berarti pembuluh darah. Dalam hal ini mencakup sistem sirkulasi darah yang terdiri dari jantung  komponen darah dan pembuluh darah. 
Pusat peredaran darah atau sirkulasi darah ini berawal dijantung, yaitu sebuah pompa berotot yang berdenyut secara ritmis dan berulang 60-100x/menit. Setiap denyut menyebabkan darah mengalir dari jantung, ke seluruh tubuh dalam suatu jaringan tertutup yang terdiri atas arteri, arteriol, dan kapiler kemudian kembali ke jantung melalui venula dan vena.
 Dalam memahami sistem sirkulasi , kita perlu memahami anatomi fisiologi yang ada pada jantung tersebut sehingga kita mampu memahami berbagai problematika berkaitan dengan sistem kardivaskuler tanpa ada kesalahan yang membuat kita melakukan neglicent( kelalaian). Oleh karena itu, sangat penting sekali memahami anantomi fisiologi kardiovaskuler  yang berfungsi langsung dalam mengedarkan obat-obatan serta oksigenasi dalam tubuh dalam proses kehidupan.
Dalam melakukan pengkajian dengan baik, maka diperlukan pemahaman, latihan dan ketrampilan mengenal tanda dan gejala yang ditampilkan oleh pasien. Proses ini dilaksanakan melalui interaksi perawatan dari klien, observasi, dan pengukuran.Pemeriksaan dalam keperawatan menggunakan pendekatan yang sama dengan pengkajian fisik, yaitu dengan pendekatan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi . Pengkajian fisik dilakukan untuk menegakkan diagnosis yang berupa kepastian tentang penyakit apa yang diderita klien . pengkajian fisik keperawatan pada prinsipnya dikembangkan berdasarkan model keperawatan yang lebih difokuskan pada respon yang ditimbulkan akibat masalah kesehatan yang dialami. Pengkajian fisik keperawatan harus mencerminkan diagnosa fisik yang secara umum perawat dapat membuat perencanaan tindakan untuk mengatasinya. Untuk mendapatkan data yang akurat sebelum pemeriksaan fisik dilakukan pengkajian riwayat kesehatan, riwayat psikososial, sosek, dll. Hal ini memungkinkan pengkajian yang fokus dan tidak menimbulkan bias dalam mengambil kesimpulan terhadap masalah yang ditemukan.

B.   Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah cara yang benar dalam menganamnesis pasien?
2.    Apa saja pemeriksaan diagnostik pada sistem vaskuler ?
C.   Tujuan Penulisan
1.   Mengetahui cara yang benar dalam menganamnesis pasien.
2.   Agar mahasiswa tenaga kesehatan atau tenaga medis dapat memahami pemeriksaan yang berkaitan dengan vaskuler
D.   Manfaat Penulisan
1.   Memberikan gambaran umum kepada mahasiswa keperawatan mengenai cara menganamnesis pasien yang baik dan benar sehingga pasien merasa nyaman menceritakan semua keluhan penyakitnya.
2.   agar meminimalisir kesalahan dalam tindakan praktik keperawatan yang di sebabkan oleh ketidakpahaman dalam anatomi fisiologi dalam sistem vaskuler sehingga berpengaruh besar terhadap kehidupan klien.



BAB II
PEMBAHASAN

A.   Definisi Anamnesa dan Observasi Sirkuasi
Anamnesa merupakan pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter maupun perawat dengan cara melakukan serangkaian wawancara dengan pasien atau keluarga pasien atau dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien.
Observasi adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter  maupun perawat dengan cara melakukan serangkaian pengamatan dengan pasien.
Sedangkan observassi sirkulasi adalah pengamatan yang dilakukan dokter maupun perawat untuk membandingkan  data pemeriksaan yang pernah diambil dengan data yang baru diambil.
B.   CARA MENGANAMESIS PASIEN
Menurut Patricia A Potter tahun 2005, jenis teknik anamnesa meliputi :
1.    Teknik Mencari Masalah.
Anamnesa mencari masalah mengidentifikasi masalah potensial klien, dan pengumpulan data selanjutnya difokuskan pada masalah tersebut. Sebagai contoh, perawat menanyakan pada klien tentang perubahan yang dialami dalam pecernaan, seperti kurang nafsu makan, mual, muntah atau diare. Jika klien mengatakan bahwa sebagian dari gejala ini dialaminya, perawat melanjutkan dengan pertanyaan pemecahan masalah yang difokuskan pada perubahan spesifik pada pencernaan.
2.    Teknik Pemecahan Masalah.
Teknik anamnesa pemecahan masalah difokuskan pada pengumpulan data yang lebih mendalam pada masalah spesifik yang diidentifikasi oleh klien atau perawat (lvey,1988). Sebagai contoh, jika klien melaporkan bahwa muntah telah dalam 2 hari, perawat menanyakan apa pencetus muntah pertama kalinya, apakah klien mengalami gejala lain, apakah terjadi setiap kali klien makan atau minum dan bagaimana karasteritik muntah. Informasi tentang pasien, faktor pemberat, gejala yang berkaitan, tindakan pereda yang telah klien coba, dan keefektifan tindakan ini pada akhirnya memadu pemilihan perawat tentang interverensi keperawatan.
3.    Teknik Pertanyaan Langsung.
Anamnesa pertanyaan langsung adalah format strukstur yang membutuhkan jawaban satu atau dua kata dan sering kali digunakan untuk mengklarifikasi informasi sebelumnya atau memberikan informasi tambahan (lvey,1998). Sebagai contoh "apakah anda mengalami nyeri ketika muntah?" adalah suatu pertanyaan langsung.Dengan teknik ini pertanyaan tidak mendorong klien untuk secara suka rela memberikan informasi lebih banyak dari yang ditanyakan langsung.Tipe pertanyaan seperti ini sangat berguna dalam mengumpulkan data biografi dan informasi spesifik mengenai masalah kesehatan seperti, gejala, faktor pencetus dan tindakan pereda.
4.    Teknik Pertanyaan Terbuka.
Anamnesa pertanyaan terbuka ditunjukan untuk mendapatkan respons lebih dari satu kata atau dua kata. Teknik ini mengarah pada diskusi di mana klien secara aktif menguraikan status kesehatan mereka. Metode ini menguatkan hubungan perawat klien karena teknik ini menunjukkan bahwa perawat ingin meluangkan waktu untuk mendengarkan pikiran klien. Contoh-contoh pertanyaan terbuka adalah sebagai berikut :
a.     "Perawat kesehatan apa yang anda butuhkan?"
b.     "Bagaimana perasaan Anda?"
c.    "Ceritakan pada saya apa makna kedatangan ke rumah sakit bagi Anda?"
C.   Fase – Fase Anamnesa
Menurut Patricia A Potter tahun 2005, fase-fase anamnesa adalah sebagai berikut :
a.       Fase Orientasi
Perawat membuka wawancara dengan menjelaskan tujuan dari wawancara. Perawat juga mendiskusikan tipe pertanyaan yang akan ditanyakan dan para klien dalam proses wawancara. Kemudian perawat meluangkan waktu beberapa menit untuk saling mengenal dengan klien.
b.      Fase Kerja
Dengan berkembangnya wawancara, perawat mengajukan pertanyaan untuk membentuk data dasar yang digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan rencana asuhan keperawatan.
c.       Fase Terminasi
Terminasi membutuhkan keterampilan dari pihak wawancara. Idealnya klien harus diberi isyarat bahwa wawancara akan segera berakhir.
D.   Komponen Anamnesa
Menurut Patricia A Potter tahun 2005, riwayat kesehatan keperawatan adalah data yang dikumpulkan tentang tingkat kesejahteraan klien (saat ini dan masa lalu).Riwayat keluarga, perubahan dalam pola kehidupan, riwayat sosial budaya, keseatan spiritual dan reaksi mental serta emosi terhadap penyakit.Riwayat keperawatan dikumpulkan selama anamnesa, dan merupakan langkah pertama dalam melakukan pengkajian. Macam-macam riwayat kesehatan keperawatan :
a.       Riwayat kesehatan masa lalu
Informasi yang dikumpulkan tentang riwayat masa lalu memberikan data tentang pengalaman kesehatan klien. Perawat mengkaji apakah klien pernah dirawat di rumah sakit atau pernah menjalani operasi. Perawat juga mengidentifikasi kebiasaan dan pola gaya hidup pasien.
b.         Riwayat Keluarga
Tujuan dari riwayat keluarga adalah untuk mendapatkan data tentang hubungan kekeluargaan langsug dan hubungan darah. Sasaranya untuk menentukan apakah klien berisiko terhadap penyakit yang bersifat genetik atau familial dan untuk mengidentifikasi area tentang promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
c.       Riwayat Lingkungan
Riwayat lingkungan memberikan data tentang lingkungan rumah klien dan segala sistem pendukung yang anggota keluarga dan klien dapat digunakan. Riwayat lingkungan misalnya mengidentifikasi pemajanan polutan yang dapat mempengaruhi kesehatan, tingkat kriminalitas yang tinggi sehingga menghambat klien untuk berjalan-jalan sekitar lingkungan rumah dan sumber yang dapat membantu klien dalam kembai ke komunitas.
d.      Riwayat Psikososial
Riwayat psikososial yang lengkap menunjukkan siapa sistem pendukung klien, termasuk pasangan, anak-anak anggota keluarga lain, atau teman dekat.Riwayat psikososial termasuk informasi tentang cara-cara yang biasanya klien dan anggota keluarga gunakan untuk mengatasi stres.perilaku yag sama seperti berjalan-jalan, membaca, atau berbicara dengan teman, dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan jika klien mengalami stres ketika menerima perawatan kesehatan.perawat juga belajar apakah klien telah mengalami suatu kehilangan baru-baru ini yang dapat menciptakan suatu rasa berduka.
Menurut Helen Varney tahun 2007, komponen anamnesa adalah sebagai berikut :
a.      Mengidentifikasi informasi
1.        Nama
2.        Usia
3.        Ras/etik
4.        Alamat/telepon
5.        Agama
6.        Status pernikahan
7.        Pekerjaan
8.        Jenis kelamin
b.      Keluhan Utama (KU)                                                         
c.       Riwayat Penyakit Saat ini
d.      Riwayat Medis Terdahulu dan Perawatan Primer
1.        Penyakit pada masa kanak-kanak/imunisasi seperti campak (tipe), gondongan, dan cacar air
2.        Uji skrining laboratorium yang dilakukan baru-baru ini untuk penyakit infeksi (hepatitis, campak, tuberkulosis, HIV) : tanggal, hasil
3.        Penyakit utama (pneumonia, hepatitis, demam reumatik, difteri, polio)
4.        Rawat inap ; tanggal, alasan
5.        Pembedahan ; tanggal, alasan
6.        Kecelakaan ; fraktur, cedera, tidak sadar
7.        Tranfusi darah ; tanggal, alasan, reaksi
8.        Alergi (makanan, demam Hay, lingkungan, debu, binatang ; asma)
9.        Alergi obat
10.    Penyalahgunaan alkohol/alkoholisme; perawatan
11.    Penyalahgunaan/ ketergantungan obat; zat, perawatan
12.    Kebiasaan
13.  Pola tidur
14.  Diet/malnutrisi
15.  Olahraga/ aktivitas bersenang-senang
16.  Bahaya ditempat kerja : posisi (berdiri,duduk) tegangan (mata,otot), ventlisasi, terpajan zat kimia beracun
17.  Bahayan lingkungan : udara, air, pembuangan limbah, jumlah jendela kurang, tempat perapian yang tebuka, cat
18.  Penganiayaan fisik/seksual pada masa kanak-kanak
19. Kekreasan rumah tangga/ pemukulan/ pemerkosaan/ isolasi pada masa yang lalu, saat ini keamanan
20. Uji skrining genetik, jika didapat lakukan (mis. Sel sabit,tay sachs, fibrosis kritis); hasil
21. Penyakit spesifik
22. Pengobatan
E. Pemeriksaan Fisik Sistem vaskuler

Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan-kelainan dari suatu sistem atau suatu organ bagian tubuh dengan cara melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk (perkusi) dan mendengarkan (auskultasi). Urutan pemeriksaan berjalan secara logis dari kepala ke kaki, dan bila telah terlatih dapat dilakukan hanya dalam waktu sekitar 10 menit :
(1) keadaan umum,
(2) tekanan darah,
(3) nadi,
(4) tangan,
(5) kepala dan leher,
(6) jantung,
(7) paru,
(8) abdomen dan
(9) kaki serta tungkai.
1. Pemeriksaan Tekanan Darah
Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah jantung, ketegangan arteri, dan volume, laju serta kekentalan (viskositas) darah. Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolic, dengan nilai dewasa normalnya berkisar dari 100/60 sampai 140/90. Teknik penggukuran tekanan darah meliputi :
a.    Manset spignomanometer diikatkan pada lengan atas, stetoskop ditempatkan pada arteri brakialis pada permukaan ventral siku agak bawah manset spigmomanometer.
b.    Tekanan dalam spigmomanometer dinaikkan dengan memompa udara ke dalam manset sampai denyut radial dan brachial menghilang. Manset dikembangkan lagi sebesar 20 sampai 30 mmHg diatas titik hilangnya denyutan radial kemudian tekanan didalam spigmomanometer di turunkan secara perlahan.
c.    Pada saat denyut nadi mulai terdengar kembali, baca tekanan yang tercantum pada skala spigmomanometer, tekanan ini adalah tekanan sistolik.
d.    Suara denyutan nadi selanjutnya agak keras dan tetap terdengar sekeras itu sampai suatu saat denyutannya melemah atau menghilang sama sekali. Suara denyutan terakhir adalah tekanan diastolic.

2. Pemeriksaan Nadi
1.Palpasi
Penilaian palpasi meliputi frekuensi, irama, kualitas, konfigurasi gelombang, dan keadaan pembuluh darah. Frekuensi jantung normal
Usia
Frekuensi jantung (denyut/menit)
Bayi
120-160/mnt
todler
90-140/mnt
Prasekolah
80-110/mnt
Usia sekolah
75-100/mnt
Remaja
60-90/mnt
Dewasa
60-100/mnt
2.Irama
Secara normal irama merupakan interval reguler yang terjadi antara setiap denyut nadi atau jantung. Bila irama nadi tidak teratur, maka frekuensi jantung harus dihitung dengan melakukan auskultasi denyut apikal selama satu menit penuh sambil meraba denyut nadi. Setiap perbadaan antara kontraksi yang terdengar dan nadi yang teraba harus dicatat. Gangguan irama (disritmia) sering mengakibatkan defisit nadi, suatu perbedaan antara frekuensi apeks (frekuensi jantung yang terdengar di apeks jantung) dan frekuensi nadi. Defisit nadi biasanya terjadi pada fibrilasi atrium, flutter atrium, kontraksi ventrikel premature dan berbagai derajat blok jantung.
3.Kekuatan nadi
Kekuatan atau amplitudo dari nadi menunjukkan volume darah yang diejeksikan ke dinding arteri pada setiap kontraksi jantung dan kondisi sistem pembuluh darah arterial yang mengarah pada nadi. Secara normal, kekuatan nadi tetap sama pada setiap denyut jantung.
0           tidak ada, tidak dapat dipalpasi
1+     nadi hilang, sangat sulit dipalpasi, mudah hilang 
2+     mudah dipalpasi, nadi normal 
3+     nadi penuh, meningkat 
4+     kuat, nadi memantul, tidak dapat hilang 
3.    pemeriksaan pernafasan
Frekuensi napas normal tergantung umur :
1. Usia baru lahir sekitar 35 – 50 x/menit
2. Usia < 2 tahun 25 – 35 x/menit
3. Usia 2-12 tahun 18 – 26 x/menit
4. Dewasa 16 – 20 x/menit.
5. Takhipnea :Bila pada dewasa pernapasan lebih dari 24 x/menit
6. Bradipnea : Bila kurang dari 10 x/menit disebut
7. Apnea : Bila tidak bernapas .
4.    Mengukur suhu tubuh
Mengukur suhu tubuh dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu yang paling umum adalah dengan melakukan pengukuran di ketiak, mulut dan dubur. Termometer yang digunakan,sebaiknya termometer digital (elektronik) untuk memberikan hasil yang tepat dan akurat.
1.    Mengukur Suhu Tubuh Di Bawah Ketiak
Pengukuran suhu tubuh yang paling umum dan mudah adalah di ketiak. Langkah pengukuran sebagai berikut:
  • Ujung termometer dibersihkan.
  • Letakkan ujung termometer di ketiak, dan jepit dengan erat.
  • Tahan termometer hingga berbunyi.
  • Termometer dikeluarkan dan baca hasilnya.
  • Bersihkan termometer.
2.    Mengukur Suhu Tubuh Lewat Mulut
Mengukur suhu tubuh yang paling mudah dan memberikan hasil yang cukup akurat adalah melalui mulut. Untuk mengukur suhu tubuh ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
  • Ujung termometer dibersihkan.
  • Masukkan ujung termometer ke bawah lidah.
  • Tahan termometer dalam mulut minimal 1 menit, atau sampai termometer berbunyi.
  • Keluarkan termometer dan baca hasilnya.
  • Bersihkan termometer kembali.
3.    Mengukur Suhu Tubuh Lewat Dubur
Tempat lain untuk mengukur suhu tubuh adalah di dubur. Namun pengukuran di tempat ini cukup merepotkan, terutama pada bayi atau anak-anak. Langkah pengukuran pada bayi/anak-anak dilakukan sebagai berikut:
  • Oleskan pelumas (Aquagel) pada ujung termometer.
  • Tengkurapkan atau telentangkan bayi di pangkuan.
  • Masukkan 1,5-2,5 cm ujung termometer ke dalam dubur dengan hati-hati.
  • Tahan posisi tersebut hingga termometer berbunyi. Posisi bayi harus ditahan idak bergerak, sebab jika bergerak, dapat menyebabkan termometer masuk lebih dalam dan menyebabkan luka.
  • Keluarkan termometer dan baca hasilnya.
Pengukuran suhu tubuh di dubur memberikan hasil yang paling akurat. Sebagai catatan, jangan gunakan termometer di dubur untuk melakukan pengukuran di tempat lain, terutama di mulut. Tahukan alasannya?
BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Anamnesa merupakan pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter maupun perawat dengan cara melakukan serangkaian wawancara dengan pasien atau keluarga pasien atau dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien.
Observasi adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter  maupun perawat dengan cara melakukan serangkaian pengamatan dengan pasien.
Sedangkan observassi sirkulasi adalah pengamatan yang dilakukan dokter maupun perawat untuk membandingkan  data pemeriksaan yang pernah diambil dengan data yang baru diambil.

B.   Saran

o   bagi perawat dalam melakukan pemeriksaan harus menggunakan ketelitian




DAFTAR PUSTAKA
Andrajati, Retnosari dkk. 2008. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia. Depok: Departemen Farmasi FMIPA UI.
Enykus, 2003, keterampilan dasar dan prosedur perawatan dasar, ed 1. Semarang, Kilat press
 Husen, Saikhu Akhmad dkk. 2011. Petunjuk Praktikum Fisiologi. Surabaya: Departemen Biologi FST UA.
 Pery, Anne Griffin, Potter, patricia A., Yasmin, Asih (editor). (1999). Buku Saku Ketrampilan Dan Prosedur Dasar. EGC: Jakarta
 Pery, Anne Griffin, Potter, patricia A.,(1999). Fundamental Keperawatan Konsep proses dan praktek.EGC: Jakarta